Lampung Selatan, Datalampung.com — Potret kemiskinan masih terlihat di Dusun Umbul Pabrik, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan. Seorang nenek bernama Asnah (64) hidup seorang diri di rumah reyot yang jauh dari kata layak huni.
Sejak ditinggal wafat suaminya sekitar sepuluh tahun lalu, Asnah memilih bertahan di gubuk sederhana tersebut. Kondisi rumahnya memprihatinkan. Lantainya masih berupa tanah, sementara dinding bambu di sejumlah bagian telah berlubang dan keropos dimakan usia. Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam rumah karena atapnya bocor.
Tak hanya itu, rumah tersebut juga tidak memiliki fasilitas sanitasi. Di bagian belakang rumah, terdapat ruang darurat yang ditutup menggunakan sarung dan terpal bekas. Tempat itu digunakan Asnah untuk mandi, mencuci, sekaligus buang air besar. Tanahnya hanya digali sekitar 30 sentimeter sebagai lubang pembuangan.
Dalam keseharian, Asnah hidup tanpa pendamping. Untuk bertahan hidup, ia memungut kelapa dan pinang di kebun milik tetangga. Hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan seadanya.
Di usia yang tak lagi muda, kondisi fisiknya kian melemah. Tubuhnya tampak kurus, rambutnya memutih, dan wajahnya dipenuhi kerutan. Meski harus menghadapi terpaan angin yang masuk dari celah dinding serta kebocoran saat hujan, Asnah tetap bertahan di rumahnya.
Kisah Asnah menjadi gambaran bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian serta uluran tangan berbagai pihak.
