Bandarlampung, Datalampung.com – Provinsi Lampung mencatat deflasi pada awal tahun 2026, namun Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi inflasi daerah masih aman dan terkendali.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (month to month/mtm) pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,59 persen (mtm). Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan deflasi nasional yang mencapai 0,15 persen (mtm) .
Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung tercatat sebesar 1,90 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen (yoy) .
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, mengatakan deflasi pada Januari 2026 terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi.
“Deflasi utamanya disebabkan oleh penurunan harga komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok transportasi, seperti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bensin, dan jeruk,” ujar Achmad P. Subarkah dalam siaran pers BI .
Ia menjelaskan, penurunan harga cabai merah dan cabai rawit sejalan dengan peningkatan pasokan akibat masuknya masa panen di sentra produksi, khususnya di Kabupaten Pringsewu dan Lampung Timur. Sementara itu, penurunan harga bawang merah turut didukung oleh realisasi kerja sama antardaerah (KAD) business to business (B2B) antara BUMD Jawa Tengah dan Lampung. Dari sisi nonpangan, penurunan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina .
Di sisi lain, Achmad P. Subarkah menyebut deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti emas perhiasan, tomat, kangkung, bayam, dan nasi dengan lauk.
“Kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh tren peningkatan harga emas dunia di tengah tingginya ketidakpastian global. Sementara kenaikan harga komoditas hortikultura disebabkan penurunan produksi akibat tingginya curah hujan,” jelasnya .
Ke depan, BI memprakirakan inflasi di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, antara lain peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H, berlanjutnya kenaikan harga emas dunia, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi .
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung akan terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif .
