-->
  • Jelajahi

    Copyright © datalampung

    Inflasi Lampung Juni 2026 Terkendali

    Jumat, 03 Juli 2026, 10:18 WIB

    Bandar Lampung, Datalampung.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung mencatat inflasi di Provinsi Lampung pada Juni 2026 sebesar 0,55 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,82 persen (mtm).


    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan secara tahunan inflasi Lampung tercatat sebesar 2,46 persen (year on year/yoy) atau masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,34 persen (yoy).


    “Secara umum inflasi di Lampung masih terjaga dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Namun sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, baik dari sisi global maupun domestik,” ujar Bimo dalam keterangannya, Selasa (1/7/2026).


    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Juni 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi, khususnya komoditas bensin yang memberikan andil sebesar 0,21 persen (mtm). Kenaikan tersebut sejalan dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang diberlakukan pemerintah sejak 10 Juni 2026.


    Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut menyumbang inflasi. Komoditas bawang merah tercatat memberi andil sebesar 0,07 persen, tomat 0,05 persen, bawang putih 0,04 persen, dan minyak goreng 0,02 persen.


    Menurut Bimo, kenaikan harga bawang merah dipicu oleh menurunnya produksi pascapanen di sentra produksi. Sementara harga tomat terdorong naik akibat tingginya permintaan dari program makan bergizi gratis (MBG) di tengah terbatasnya pasokan karena cuaca yang tidak menentu.


    “Harga bawang putih juga meningkat karena berkurangnya pasokan dari distributor, ditambah dampak kenaikan harga BBM dan fluktuasi nilai tukar rupiah,” jelasnya.


    Meski demikian, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,03 persen, disusul telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, dan nugget yang masing-masing menyumbang minus 0,02 persen.


    Penurunan harga cabai dipengaruhi meningkatnya pasokan dari hasil panen di sentra produksi serta tambahan suplai dari luar daerah. Sedangkan harga daging ayam ras menurun seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.


    Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi Lampung tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Namun demikian, sejumlah risiko masih membayangi.


    Bimo menyebut, dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan agregat akibat realisasi kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen, kenaikan harga emas dunia, potensi kenaikan harga plastik, hingga risiko terganggunya pasokan gula akibat tertundanya musim giling.


    Sementara dari sisi volatile food, BI juga mewaspadai rendahnya realisasi tanam pada Maret 2026 akibat curah hujan tinggi, serta potensi cuaca kering dan transisi menuju El Nino lemah pada semester II tahun ini.


    Selain itu, risiko dari kelompok administered prices juga masih cukup tinggi, terutama kemungkinan kenaikan harga BBM akibat tensi geopolitik global dan dampak lanjutan penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap tarif transportasi antarkota.


    Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.


    Langkah konkret yang dilakukan antara lain operasi pasar beras/SPHP, penguatan kerja sama antar daerah (KAD), optimalisasi distribusi pangan melalui BUMD dan BULOG, hingga pemanfaatan sistem informasi pangan digital.


    “Koordinasi antarinstansi akan terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Bimo.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini