-->
  • Jelajahi

    Copyright © datalampung

    Lembah Suhita, Bekas Tambang Batu di Bandar Lampung yang Disulap Jadi Wisata Edukasi Alam

    Rabu, 24 Juni 2026, 11:49 WIB


    Bandar Lampung, Datalampung.com – Sebuah kawasan bekas tambang batu di Kota Bandar Lampung kini bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis edukasi dan konservasi. Tempat itu bernama Lembah Suhita, yang berada di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Telukbetung Utara.


    Berbeda dengan tempat wisata pada umumnya, Lembah Suhita tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman belajar langsung tentang lingkungan, budidaya lebah, hingga gaya hidup sehat yang menyatu dengan alam.


    Kawasan yang dulunya menjadi lokasi penambangan batu itu kini diubah menjadi ruang hijau terbuka yang ramah bagi masyarakat, terutama anak-anak dan komunitas pendidikan.


    Tim Marketing Lembah Suhita, Adinda Putri Anasta, mengatakan tempat tersebut dibangun dengan misi utama meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.


    “Kami ingin membuat masyarakat lebih aware terhadap konservasi lingkungan. Selain itu, kami juga menawarkan edukasi budidaya lebah agar masyarakat memahami bahwa lebah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan,” kata Adinda.


    Beragam aktivitas ditawarkan di kawasan ini, mulai dari grounding atau berjalan tanpa alas kaki di atas tanah dan batu alam, menyusuri aliran sungai, menangkap ikan, hingga mengikuti pengalaman beternak lebah secara langsung.


    Grounding menjadi salah satu aktivitas favorit pengunjung karena dianggap memberi efek relaksasi dan membantu tubuh kembali terhubung dengan alam.


    Menurut Adinda, konsep wisata seperti ini menjadi sarana pembelajaran yang efektif, terutama bagi anak-anak.


    “Anak-anak bisa belajar mencintai lingkungan sejak dini. Masa anak-anak adalah masa emas untuk menanamkan kesadaran menjaga alam,” ujarnya.


    Momentum libur sekolah menjadi waktu yang ramai bagi Lembah Suhita. Sejumlah sekolah dan komunitas memanfaatkan tempat ini sebagai lokasi kegiatan luar ruang yang menggabungkan unsur rekreasi dan edukasi.


    Menariknya, tidak ada tiket masuk yang dibebankan kepada pengunjung. Namun pengelola menerapkan kebijakan minimal pembelian produk senilai Rp25 ribu di galeri dan kafe yang tersedia di area wisata.


    Produk tersebut terdiri dari madu hasil budidaya sendiri serta berbagai produk UMKM lokal yang bekerja sama dengan pengelola.


    Untuk menjaga kebersihan dan mendukung konsep ramah lingkungan, pengunjung juga tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar.


    “Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan ini milik bersama sehingga harus dijaga bersama-sama,” kata Adinda.


    Kenalkan Budidaya Lebah dan Terapi Sengat


    Salah satu daya tarik utama di Lembah Suhita adalah unit budidaya lebah yang dikenal dengan nama Lebah Suhita. Di area ini, pengunjung bisa melihat secara langsung proses perawatan lebah hingga produksi madu.


    Beekeeper Lembah Suhita, Muhammad Abdul Aziz, menjelaskan ada beberapa jenis lebah yang dibudidayakan, seperti Apis mellifera, Apis cerana, dan lebah trigona atau lebah tanpa sengat.


    Selain untuk produksi madu, lebah bersengat juga dimanfaatkan untuk terapi kesehatan.


    “Yang digunakan adalah lebah yang memiliki sengat dan mengandung melittin. Sebelum terapi dilakukan, pasien harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan tidak memiliki reaksi alergi,” ujarnya.


    Aziz mengatakan terapi sengat lebah atau bee venom therapy cukup diminati masyarakat dari berbagai daerah di Lampung, meski pelaksanaannya harus dilakukan dengan prosedur khusus.


    Pengunjung juga dapat mencicipi berbagai varian madu dengan karakter rasa yang berbeda.


    Pengunjung Rasakan Sensasi Berbeda


    Salah satu pengunjung, Afariza Ricco Cerevoli atau Celo, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat berkunjung ke Lembah Suhita.


    Menurutnya, aktivitas yang ditawarkan membuat dirinya lebih dekat dengan alam.


    “Sangat seru. Bisa merasakan alam itu seperti apa. Tadi ikut beekeeping dan grounding, jadi bisa lebih menyatu dengan alam,” kata Celo.


    Meski awalnya sempat takut saat berinteraksi dengan lebah, Celo mengaku rasa takut itu berkurang setelah mendapat pendampingan.


    Ia menilai Lembah Suhita memberikan pengalaman wisata yang berbeda karena tidak hanya sekadar berlibur, tetapi juga memberi pemahaman baru tentang alam dan lingkungan.


    Dengan konsep “From Quarry to Sanctuary”, Lembah Suhita menjadi contoh bagaimana kawasan bekas tambang dapat diubah menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi lingkungan, edukasi, dan masyarakat luas.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini