Bandar Lampung, Datalampung.com — Bank Indonesia mencatat inflasi Provinsi Lampung pada April 2026 tetap terjaga di level yang stabil meski dibayangi ketidakpastian global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,55 persen (mtm), sementara secara tahunan tercatat sebesar 0,53 persen (yoy).
Capaian tahunan tersebut menempatkan Lampung jauh di bawah angka inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen (yoy).
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyebutkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi pendorong utama inflasi bulan ini.
"Minyak goreng memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya produksi kemasan seiring lonjakan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut," kata Achmad P. Subarkah dalam siaran persnya.
Selain komoditas minyak goreng, kenaikan harga juga terjadi pada ikan nila, beras, dan cabai merah. Menurut Achmad, kondisi cuaca dan berakhirnya masa panen menjadi faktor penentu. "Harga beras dan cabai merah meningkat sejalan dengan berakhirnya puncak panen raya serta terbatasnya produksi akibat tunda tanam karena cuaca yang kurang kondusif," jelasnya.
Achmad juga menyoroti kenaikan harga sigaret kretek mesin yang dipengaruhi oleh kenaikan tarif Jalan Tol Bakauheni – Terbanggi Besar. "Peningkatan harga tembakau dan penyesuaian biaya distribusi akibat tarif tol turut memberikan andil pada kenaikan harga rokok," tuturnya.
Namun, ia menambahkan bahwa tekanan inflasi di Lampung berhasil diredam oleh penurunan harga cabai rawit dan daging ayam ras. "Pasokan dari sentra lokal di Pringsewu dan Lampung Tengah sangat terjaga. Ditambah lagi, ada normalisasi permintaan masyarakat setelah melewati periode besar keagamaan Idulfitri 2026," tambah Achmad.
Menatap tantangan ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Lampung hingga akhir tahun akan berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Meski begitu, BI tetap mewaspadai risiko dari kenaikan UMP 2025 yang mulai terealisasi bertahap, serta ancaman iklim.
"Kami mencermati potensi El Nino lemah pada Semester II yang berisiko menekan produksi tanaman pangan. Kami juga mewaspadai kenaikan harga BBM global akibat tensi geopolitik yang bisa berdampak pada tarif transportasi," ungkap Achmad.
Untuk menjaga stabilitas, BI bersama TPID Lampung berkomitmen memperkuat strategi 4K. "Kami akan memperluas implementasi Toko Pengendalian Inflasi dan memperkuat kerja sama antar-daerah untuk komoditas yang defisit. Operasi pasar dan subsidi ongkos angkut juga terus kami dorong guna memastikan keterjangkauan harga di masyarakat," pungkasnya.
