Lampung Timur - Progres pembangunan fasilitas mitigasi dan penanganan interaksi negatif gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mencapai 75,81 persen. Pekerjaan ditargetkan rampung secara keseluruhan pada pekan ketiga September 2026.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan pekerjaan sempat terkendala kelangkaan besi dan pasokan semen. Kendala tersebut membuat pengerjaan tertahan hampir dua pekan.
“Memang kita sempat mengalami kendala terkait dengan kelangkaan besi. Itu kendala utama kita. Semen juga sempat ada masalah,” kata Sriyanto.
Menurut dia, sejumlah pekerjaan yang semula ditargetkan selesai pada 31 Agustus 2026 kini dikebut. Untuk pekerjaan secara umum, target penyelesaian dipatok pada pekan kedua September.
Adapun pembangunan view tower mendapat perhatian khusus karena berkaitan dengan aspek keselamatan. Pekerjaan fasilitas tersebut ditargetkan selesai paling lambat pada pekan ketiga September.
“Secara keseluruhan 100 persen di minggu ketiga bulan September,” ujarnya.
Sriyanto mengatakan percepatan dilakukan dengan mengerahkan sumber daya manusia, alat, hingga menerapkan sistem lembur. Upaya tersebut dilakukan untuk mengejar target penyelesaian proyek.
“Bagaimana caranya kita kerahkan sumber daya manusia, kita kerahkan alat, kita lembur. Kita sudah lembur ini,” katanya.
Salah satu bagian penting dalam proyek tersebut adalah pembangunan pembatas atau tanggul yang berfungsi sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik antara gajah dan manusia. Menurut Sriyanto, pekerjaan tanggul menjadi salah satu faktor kritis, terutama di bagian utara kawasan.
Kondisi tanah yang labil serta lokasi yang berbatasan dengan sungai menjadi tantangan tersendiri dalam pengerjaan.
“Tanggul ini merupakan faktor kritis juga jadi perhatian. Karena kalau dilihat di bagian utara, itu tanahnya labil, berbatasan dengan sungai juga,” ujarnya.
Meski ditargetkan selesai pada pekan kedua September, pemeliharaan fasilitas akan tetap dilakukan selama 12 bulan setelah diresmikan.
Sriyanto mengatakan pemeliharaan tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas tetap berfungsi dan dapat diperbaiki apabila mengalami kerusakan.
Di sisi lain, pembangunan fasilitas mitigasi di TNWK tidak hanya diarahkan untuk mengurangi konflik gajah dan manusia. Program tersebut juga didorong memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat sekitar.
Salah satunya melalui pengembangan budi daya lebah. Sebanyak 900 kotak lebah telah diserahkan dan seluruhnya telah memasuki masa panen. Saat ini, masyarakat mulai melakukan pemecahan koloni.
“Kalau kemarin kita lihat semua boks yang kita serahkan, ini mungkin minggu depan sudah menjadi 1.500 boks lebah,” kata Sriyanto.
Selain lebah, masyarakat juga didorong mengembangkan budi daya serai. Bibit serai telah ditanam, meski sebagian tanaman mati akibat kondisi cuaca.
Program tersebut akan dilanjutkan setelah kondisi cuaca mendukung. Untuk mengembangkan produk turunannya, pengelola juga telah memesan mesin penyulingan serai.
Minyak hasil penyulingan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan sabun, pewangi, hingga aromaterapi. Masyarakat juga akan mendapatkan pendampingan dari pelaku usaha yang telah berpengalaman dalam bisnis penyulingan serai.
“Minyak asiri itu untuk sabun, untuk pengharum, untuk aromaterapi. Itu juga langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Sriyanto.
Menurut dia, tempat pengolahan telah disiapkan di Desa Braja Asri. Setelah pelatihan selesai dan mesin tersedia, fasilitas tersebut akan segera dimanfaatkan masyarakat.
Program pemberdayaan tersebut menjadi bagian dari upaya agar pembangunan mitigasi konflik gajah tidak hanya menghasilkan infrastruktur pembatas, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNWK.
