-->
  • Jelajahi

    Copyright © datalampung

    Tim ENP Thailand Tinjau Pembangunan Way Kambas, Dorong Konservasi Gajah dan Pariwisata

    Minggu, 16 Agustus 2026, 10:14 WIB

    Lampung Timur, Datalampung.com — Percepatan pembangunan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menjadi perhatian Tim Elephant Nature Park (ENP) Thailand dan Tim Wilderness. Kedua tim meninjau langsung perkembangan pembangunan di kawasan konservasi tersebut, Sabtu (15/8/2026).


    Peninjauan dilakukan bersama Kapoksahli Pangdam XXI/Radin Inten Brigjen TNI Sriyanto, M.I.R., M.A., yang juga menjabat Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TN Way Kambas.


    Kegiatan ini menjadi bagian dari koordinasi untuk memastikan pembangunan sarana dan prasarana di TNWK berjalan sesuai rencana. Kondisi di lapangan juga menjadi bahan evaluasi untuk melihat kebutuhan serta potensi kendala dalam proses pembangunan.


    Tim ENP Thailand yang ikut dalam peninjauan yakni Ahmad Munawir, Saengduean Chailert, Warattada Pattarodom, Jason Aaron Jackson, Thipsuda Masith, dan Amnat Arthan.


    Sementara Tim Wilderness terdiri atas Presiden Direktur PT Living Landscapes Indonesia Keren Brooks, Madina Firdaus, Nick Stone, Ingrid, dan Robert.


    Sriyanto mengatakan peninjauan lapangan diperlukan untuk memastikan progres pembangunan tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan.


    Menurut dia, koordinasi secara berkelanjutan dibutuhkan agar setiap kendala yang muncul dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti.


    “Monitoring dan koordinasi secara berkelanjutan antara pihak-pihak terkait diperlukan, khususnya dalam mengantisipasi adanya hambatan yang dapat memperlambat progres pekerjaan,” ujar Sriyanto.


    Ia mengatakan percepatan pembangunan tidak boleh mengesampingkan fungsi utama TNWK sebagai kawasan konservasi. Aspek keamanan, kelestarian lingkungan, ekosistem, serta kondisi masyarakat sekitar harus tetap menjadi pertimbangan.


    “Percepatan pembangunan di kawasan TNWK perlu tetap dilaksanakan dengan memperhatikan aspek pengamanan, kelestarian lingkungan dan ekosistem kawasan konservasi serta kondisi sosial masyarakat sekitar,” katanya.


    Sriyanto menyebut hasil peninjauan akan menjadi bahan evaluasi untuk mendukung pencapaian target pembangunan. Monitoring terhadap perkembangan pekerjaan juga akan terus dilakukan.

    Dukungan terhadap penguatan konservasi Way Kambas disampaikan Anshori Djausal, tokoh asal Lampung yang dikenal sebagai penggiat pariwisata, budayawan, akademisi, sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung.


    Anshori menilai upaya konservasi di Way Kambas memiliki arti penting, terlebih jika kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai percontohan pengelolaan dan pelestarian satwa.


    “Bahwa saya mendukung upaya konservasi, terlebih jika Way Kambas bisa menjadi percontohan dunia yang berada di Indonesia dalam pengembangan dan pelestarian satwa seperti gajah Sumatra,” ujar Anshori.


    Ia berharap penguatan konservasi dapat memastikan gajah Sumatra tetap lestari dan konflik dengan masyarakat dapat semakin ditekan.


    “Gajah Sumatra terus lestari dan tidak ada lagi konflik dengan manusia,” katanya.


    Selain konservasi, Anshori berharap keberadaan TNWK juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat desa penyangga melalui pengembangan sektor pariwisata.


    “Semoga pariwisata bisa tumbuh membantu ekonomi masyarakat desa penyangga,” ujar Anshori.


    Menurut dia, konservasi dan pariwisata dapat dikembangkan secara beriringan sehingga pelestarian satwa tidak terlepas dari kepentingan masyarakat sekitar.


    “Jadi konservasi dan pariwisata bisa berjalan bersama. Satwanya terlindungi, masyarakat di desa penyangga juga mendapatkan manfaat ekonomi,” katanya.


    Menurut Anshori, Way Kambas memiliki sejarah panjang dalam upaya konservasi satwa di Indonesia. Kawasan tersebut kini menjadi salah satu kawasan konservasi penting dengan keberadaan pusat konservasi badak dan konservasi gajah.


    “Kalau dilihat ke belakang, Way Kambas yang sekarang telah menjadi kawasan konservasi yang penting dengan Pusat Konservasi Badak, Konservasi Gajah pertama di Indonesia ini tidak lepas dari keberhasilan merubah kawasan bekas HPH menjadi kawasan konservasi sebagai Taman Nasional awal 80-an,” katanya.


    Ia mengatakan perjalanan Way Kambas sebagai kawasan konservasi juga tidak terlepas dari upaya besar penyelamatan gajah Sumatra pada dekade 1980-an.


    “Sebuah pekerjaan besar yakni 'menyelamatkan' semua Gajah dari perbatasan Sumsel masuk ke Way Kambas pertengahan 80-an yang dikenal dengan kegiatan TATA LIMAN (86),” ujar Anshori.


    Menurutnya, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan konservasi gajah di Way Kambas. Sejarah panjang tersebut menjadi modal penting bagi kawasan tersebut untuk terus dikembangkan sebagai pusat pelestarian satwa.


    Sementara pada peninjauan berlangsung hingga pukul 16.50 WIB dan berakhir dalam keadaan aman serta tertib.


    Selanjutnya, progres pembangunan TNWK akan terus dipantau dan dikoordinasikan sebagai bahan evaluasi. Percepatan pembangunan diharapkan tetap berjalan sejalan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan dan habitat gajah Sumatra.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini